Tingkatkan Inovasi dan Digitalisasi, Bogasari SME Award 2025 Dorong UKM Naik Kelas
Acara ini menjadi ruang temu bagi UKM pangan yang ingin memperkuat daya saing bisnis melalui inovasi produk dan pemanfaatan teknologi digital.

Gelaran Bogasari SME Award 2025 kembali menjadi sorotan setelah tahun ini menempatkan inovasi dan digitalisasi sebagai fokus utama penilaian.
Memasuki usia penyelenggaraan ke-15, ajang apresiasi bagi pelaku UKM berbasis tepung terigu tersebut menegaskan komitmen Bogasari untuk mendorong UMKM Indonesia naik kelas melalui kompetisi yang lebih ketat dan terukur.
Puncak penghargaan berlangsung di Bekasi pada Rabu (10/12/2025) dan dihadiri ratusan pelaku usaha dari DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat.
Acara ini menjadi ruang temu bagi UKM pangan yang ingin memperkuat daya saing bisnis melalui inovasi produk dan pemanfaatan teknologi digital.
Menurut Vice President Marketing Bogasari, Budi Hartono, penilaian tahun ini dirancang lebih detail untuk memastikan hanya UKM dengan kesiapan menghadapi tantangan modern yang dapat melaju ke babak final.
Ada empat tahapan seleksi yang melibatkan tim internal dan dewan juri eksternal, dengan tujuh kriteria utama yang menekankan aspek inovasi dan digital presence.
Kriteria tersebut meliputi:
- Kejelasan presentasi bisnis
- Kualitas dan keunikan produk
- Pemahaman pasar dan strategi
- Inovasi produk, proses, kemasan, dan layanan
- Jejak digital serta branding
- Potensi pertumbuhan dan kelayakan bisnis
- Profesionalisme dalam presentasi
Selain mempresentasikan strategi dan model bisnis, para finalis juga diwajibkan membawa produk unggulan mereka untuk diuji secara langsung oleh juri.
Proses presentasi dilakukan pada sore hingga menjelang malam dan ditutup dengan makan bersama serta pertunjukan seni dari Padepokan Jugala.
Dari 10 finalis yang tampil, tiga UKM akhirnya ditetapkan sebagai pemenang pada kategori inovasi bisnis dan melek digital.
Juara pertama diraih Papa Cookies asal Sragen, disusul Home Made Bakery dari Jakarta sebagai juara dua, dan Sari Madu Bakery dari Samarinda di posisi ketiga.
Dewan juri—yang terdiri dari tokoh utama di bidang digital, kuliner, dan konsultasi bisnis—menyebut Papa Cookies unggul merata di semua kriteria.
Juri dari Founder Adaptable Consulting, Rama Syahid, menilai Papa Cookies memiliki keseimbangan kuat antara inovasi, strategi digital, dan fondasi bisnis yang matang.
“Inovasinya jelas, digital presence-nya stabil dan efektif, kemasannya sudah siap ekspor. Bahkan kami sampai kewalahan menilai karena pesertanya keren-keren, termasuk anak-anak muda yang piawai memadukan bisnis dan konten digital,” ujar Rama.
Antusiasme peserta tahun ini mencerminkan semakin tingginya kesadaran UKM akan pentingnya inovasi dan digitalisasi.
Tercatat 119 UKM dari 19 provinsi mendaftar mengikuti Bogasari SME Award 2025. Jenis produk pun makin bervariasi.
Mulai dari roti dan pastry (56,3 persen), jajanan pasar (14,3 persen), mi dan kulit pangsit (11,8 persen), hingga cake, biskuit, serta aneka produk pangan lain.
Selain tiga pemenang utama, tujuh UKM lain berhasil menjadi nominator, seperti Pride Chicken (Bandung), Choco Bakery (Medan), Monica & Loren (Lampung).
Kemudian, Mi Djoetek (Kediri), Mak Enak (Jember), Roti Gembong Gedhe (Jawa Tengah), dan Syarah Bakery (Bengkulu).
Para pemenang dan nominator mendapatkan hadiah berupa edutrip ke luar negeri serta kesempatan promosi usaha melalui kanal digital dan media cetak Bogasari.
Budi Hartono menegaskan, ajang Bogasari SME Award 2025 dirancang tidak sekadar sebagai seremoni penghargaan.
Tetapi sebagai bagian dari rangkaian upaya sistematis Bogasari dalam memperkuat ekosistem UKM berbasis tepung terigu di Indonesia.
“Pemilihan kategori inovasi dan digitalisasi adalah bentuk dorongan bagi UKM agar semakin adaptif. Kami ingin menemukan UKM yang bukan hanya kuat hari ini, tetapi juga siap tumbuh dan berkembang di masa depan,” ujarnya.
Selain melalui penghargaan, Bogasari juga konsisten memberikan edukasi lewat pelatihan Bogasari Baking Center (BBC) dan program KIAT (Kunci Informasi dan Teknologi) yang membantu UKM memahami aspek produksi, manajemen bisnis, hingga pemasaran digital.
Kisah Tiga Juara, Transformasi Lewat Inovasi dan Teknologi
Papa Cookies – Sragen
Berawal dari pelatihan di Bogasari Baking Center dan modal Rp100 ribu, usaha ini kini berkembang menjadi raksasa bakery dengan lebih dari 200 cabang di Indonesia.
Keberhasilan mereka didorong inovasi produk dan strategi digital yang konsisten.
Home Made Bakery – Jakarta
Didirikan pada 1992, bisnis ini tumbuh dari dapur rumah hingga memiliki 31 outlet.
Pendiri Darwin Sofjan bahkan belajar ke Jepang, Singapura, dan Taiwan untuk memperkuat kompetensi produksi dan pemasaran.
Sari Madu Bakery – Samarinda
Pasangan Ricky Leonardo dan Khalimatu Sadiah bangkit dari kebangkrutan usaha elektronik dengan memulai bisnis bakery pada 2017.
Pembangunan IKN menjadi momentum besar untuk pertumbuhan Sari Madu hingga kini memiliki dua outlet dan rencana ekspansi.
Bogasari SME Award 2025 membuktikan bahwa inovasi dan digitalisasi bukan lagi sekadar pelengkap, tetapi fondasi penting bagi UKM untuk berkembang.
Melalui penyaringan ketat, pendampingan, dan apresiasi nyata, Bogasari menempatkan UKM Indonesia pada jalur kompetitif yang lebih tinggi.
Ajang ini tidak hanya menghasilkan juara, tetapi juga menginspirasi banyak pelaku usaha untuk terus beradaptasi di tengah perubahan pasar dan teknologi.



