Connect with us

News

KUA-PPAS 2027 Ciamis, Ade Amran Dorong Efisiensi dan Produktivitas ASN

Published

on

CIAMIS – Anggota Komisi C DPRD Kabupaten Ciamis, H. Ade Amran, S.Pd.I., M.H., mendorong Pemerintah Kabupaten Ciamis menjadikan keterbatasan ruang fiskal pada KUA-PPAS Tahun Anggaran 2027 sebagai momentum memperbaiki kualitas tata kelola pemerintahan, perencanaan pembangunan, serta produktivitas aparatur sipil negara (ASN).

Ade Amran menilai, keterbatasan anggaran pembangunan fisik merupakan kondisi yang harus disikapi secara realistis dan bijaksana. Namun, berkurangnya belanja fisik tidak seharusnya dimaknai sebagai berkurangnya pekerjaan pemerintah daerah.

Menurutnya, yang perlu dikurangi adalah kegiatan yang tidak prioritas, bukan produktivitas aparatur, khususnya ASN teknis di perangkat daerah.

“Kalau kegiatan fisik berkurang, jangan sampai ASN teknis ikut kehilangan pekerjaan. Yang harus berkurang adalah pekerjaan yang tidak prioritas, bukan produktivitas aparatur,” ujar Ade dalam keterangan tertulis.

Ade mengatakan, ketika kemampuan pemerintah daerah membangun infrastruktur baru terbatas, perhatian justru harus diarahkan pada pemeliharaan aset dan infrastruktur yang telah tersedia.

Ia mencontohkan sektor jalan. Menurutnya, pemerintah daerah perlu memiliki data yang lebih akurat mengenai kondisi jalan, titik kerusakan, tingkat urgensi, umur konstruksi, kebutuhan pemeliharaan, hingga prioritas penanganannya.

Dengan data yang kuat, anggaran yang terbatas dapat diarahkan kepada titik prioritas, yang benar-benar membutuhkan penanganan.

“Jangan hanya bertanya tahun depan ada berapa kilometer jalan yang bisa dibangun. Kita juga harus bertanya, dengan anggaran yang ada, bagaimana mempertahankan sebanyak mungkin jalan yang sudah baik agar tidak cepat rusak,” katanya.

Menurut Ade, pemeliharaan infrastruktur merupakan bagian penting dari efisiensi anggaran. Biaya pencegahan dan pemeliharaan yang tepat sasaran dinilai dapat menghindarkan pemerintah dari kebutuhan anggaran yang jauh lebih besar akibat kerusakan yang terlambat ditangani.

Pada sisi lain, ia juga mengingatkan agar efisiensi anggaran tidak dipahami hanya sebagai pemangkasan belanja.

Dalam kondisi fiskal yang limited, pemerintah daerah perlu mengevaluasi kembali seluruh program dengan melihat dampak dan efektivitasnya.

“Perlu kita lihat kegiatan mana yang benar-benar berdampak, mana yang dapat digabungkan, mana yang bisa dilakukan dengan biaya minimal, mana yang dapat melibatkan masyarakat, dan mana yang dapat memanfaatkan kegiatan yang memang sudah berjalan di tengah masyarakat,” ujarnya.

Ia menegaskan, efisiensi yang baik adalah bagaimana pemerintah mampu menghasilkan dampak pembangunan yang lebih besar dengan sumber daya yang lebih terbatas.

Persoalan Sampah Bisa Ditangani Melalui Kolaborasi

Persoalan pengelolaan sampah menjadi salah satu contoh yang disoroti Ade Amran.

Menurutnya, pemerintah tidak dapat menyelesaikan masalah sampah hanya dengan menambah armada pengangkut, tempat pembuangan sementara (TPS), tempat pemrosesan akhir (TPA), maupun membangun fasilitas baru.

Infrastruktur tetap penting, tetapi perubahan perilaku masyarakat juga menjadi faktor utama.

“Kalau perilaku masyarakat tidak berubah, sebanyak apa pun fasilitas yang dibangun, persoalan sampah akan terus muncul,” katanya.

Karena itu, Ade mendorong Pemkab Ciamis memperkuat edukasi, sosialisasi dan pembinaan masyarakat terkait pengurangan serta pemilahan sampah dari sumbernya.

Menariknya, menurut dia, kegiatan tersebut tidak selalu membutuhkan anggaran besar.

Pemerintah daerah dapat memanfaatkan berbagai ruang sosial yang sudah berjalan, seperti majelis taklim, khutbah Jumat, sekolah, pesantren, perguruan tinggi, organisasi kepemudaan, kegiatan KKN mahasiswa, PKL, kader lingkungan hingga komunitas masyarakat.

“Pemerintah tidak harus membiayai semuanya. Pemerintah cukup menyiapkan materi, modul, data, target, pendampingan, koordinasi dan evaluasi,” ujarnya.

Dengan pola tersebut, kegiatan pemerintah dapat menghasilkan dampak yang lebih luas melalui kegiatan masyarakat yang sudah berjalan.

Ade bahkan mengusulkan agar kegiatan mahasiswa, khususnya KKN, dapat diarahkan untuk membawa program sederhana mengenai pengurangan sampah di desa.

Mahasiswa tidak hanya membantu administrasi desa, tetapi juga dapat memberikan edukasi dan pendampingan kepada masyarakat.

“Misalnya mahasiswa yang sedang KKN tidak hanya membantu kegiatan administrasi desa, tetapi juga membawa satu program sederhana: satu desa, satu gerakan pengurangan sampah,” katanya.

Hal serupa dapat dilakukan di sekolah dengan mendorong kebiasaan memilah sampah sejak dari sumbernya.

Sementara itu, majelis taklim dan khutbah Jumat dapat menjadi ruang edukasi mengenai kebersihan sebagai bagian dari tanggung jawab sosial dan nilai keagamaan.

ASN Teknis Diminta Semakin Produktif

Ade Amran menegaskan bahwa keterbatasan proyek fisik tidak boleh membuat produktivitas ASN teknis menurun.

Justru, kondisi tersebut seharusnya memberikan ruang lebih besar bagi aparatur untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang selama ini kerap kalah perhatian karena fokus pemerintah terlalu besar pada pembangunan fisik.

ASN teknis, kata dia, dapat diarahkan untuk memperbaiki basis data, mengevaluasi program, memperkuat perencanaan, menyusun standar pelayanan, memetakan persoalan, meningkatkan sosialisasi dan pembinaan, membangun koordinasi, serta mengukur hasil program.

“Jangan sampai kita memiliki paradigma bahwa kalau tidak ada proyek fisik, tidak ada pekerjaan,” tegasnya.

Menurut Ade, pemerintahan yang matang bukan semata-mata pemerintahan yang mampu membangun banyak bangunan, tetapi pemerintahan yang mampu membuat masyarakat semakin mampu menyelesaikan persoalannya sendiri.

Lebih lanjut, Ade Amran menilai keberhasilan pembangunan tidak mungkin sepenuhnya dibebankan kepada APBD.

Keterbatasan anggaran pemerintah daerah harus diimbangi dengan model pembangunan yang lebih kolaboratif.

Dalam model tersebut, pemerintah menyediakan kebijakan, data, standar, fasilitasi dan pembinaan. Masyarakat berperan melalui partisipasi dan perubahan perilaku.

Sekolah dan perguruan tinggi menjadi ruang edukasi, tokoh agama memperkuat nilai-nilai sosial, sementara dunia usaha dapat menjadi mitra pemberdayaan.

“Pemerintah daerah menjadi orkestratornya. Dengan cara seperti ini, keterbatasan APBD tidak selalu harus menghasilkan keterbatasan pembangunan,” kata Ade.

Tahun 2027 Harus Jadi Momentum Berbenah

Ade berharap pembahasan KUA-PPAS 2027 tidak hanya berorientasi pada seberapa besar belanja yang dapat dialokasikan untuk pembangunan fisik.

Ia justru ingin tahun anggaran 2027 menjadi momentum bagi Kabupaten Ciamis untuk memperkuat pembangunan yang bertumpu pada kualitas tata kelola, produktivitas aparatur dan kemandirian masyarakat.

“Kalau ruang fiskal kita terbatas, maka kualitas perencanaan harus meningkat. Kalau pembangunan fisik berkurang, maka pemeliharaan harus semakin baik,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya kreativitas pemerintah dalam memanfaatkan ruang-ruang sosial yang sudah ada ketika anggaran sosialisasi terbatas.

“Kalau persoalan sampah semakin kompleks, maka edukasi dan perubahan perilaku masyarakat harus semakin kuat. Dan kalau ASN teknis memiliki lebih sedikit kegiatan fisik, maka jangan sampai produktivitasnya ikut menurun,” pungkasnya.

Continue Reading
Click to comment

Tinggalkan Balasan

News

Didi Sukardi Bakar Semangat Kader PKS Ciamis

Published

on

By

CIAMIS — Ketua DPD PKS Kabupaten Ciamis, H. Didi Sukardi, membakar semangat kader untuk menghadapi kontestasi politik 2029.

Ia menegaskan, PKS tidak hanya membidik penambahan kursi legislatif, tetapi juga menargetkan kadernya memimpin Kabupaten Ciamis sebagai bupati.

Pernyataan itu disampaikan Didi saat memberikan arahan dalam Training Orientasi Partai Bidang Relawan dan Saksi Nasional yang digelar DPD PKS Kabupaten Ciamis, Senin, (31/08).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari penguatan kapasitas dan kesiapan kader menghadapi agenda politik mendatang.

Didi menyebut target tersebut memang tidaklah ringan. Namun, ia meyakini target sembilan kursi DPRD Kabupaten Ciamis hingga memenangkan kader PKS sebagai bupati pada 2029 dapat dicapai jika seluruh kader bergerak bersama.

“Bagaimana caranya menambah kursi dari lima menjadi sembilan? Kader PKS harus menjadi bupati Ciamis 2029. Ini berat, tetapi akan menjadi ringan kalau kita pahami bahwa terlibat di PKS kita niatkan sebagai ibadah,” tegas Didi.

Menurutnya, PKS tidak bisa mengandalkan kekuatan finansial dalam menghadapi pertarungan politik.

Justru keterbatasan tersebut harus mendorong kader memperkuat soliditas, pelayanan kepada masyarakat, kerja kolektif, dan militansi.

“Karena kita tidak punya cukup uang, itu justru menjadi ciri PKS. Kita punya kader, kita punya kebersamaan, dan kita punya semangat untuk melayani,” ujarnya.

Didi juga menekankan pentingnya membangun kesadaran bahwa aktivitas politik kader bukan semata-mata mengejar jabatan.

Setiap kerja politik harus berangkat dari niat pengabdian dan ibadah.

“Kalau niat kita ibadah, insyaallah kita tidak mudah lelah. Kita tidak menghitung apa yang kita dapat, tetapi apa yang bisa kita berikan kepada masyarakat,” katanya.

Perkuat Relawan dan Saksi

Training tersebut juga menjadi momentum memperkuat barisan relawan dan saksi sebagai bagian penting dalam strategi pemenangan pemilu.

Didi mendorong kader memahami tugas, menjaga integritas, sekaligus memastikan suara masyarakat terlindungi dalam setiap tahapan pemilu.

Target sembilan kursi sendiri sejalan dengan agenda penguatan struktur dan kaderisasi PKS Ciamis. Didi sebelumnya juga menekankan bahwa kemenangan politik harus dibangun melalui kaderisasi, pelayanan publik, serta kerja nyata di tengah masyarakat.

Dalam struktur kepengurusan periode 2025–2030, Didi Sukardi tercatat sebagai Ketua DPD PKS Kabupaten Ciamis.

Didi juga menegaskan identitas ideologis partainya.

“PKS satu-satunya partai yang berasas Islam,” ujarnya, seraya mengajak kader menjadikan nilai-nilai keislaman sebagai landasan dalam menjalankan aktivitas politik dan pelayanan kepada masyarakat.

Dengan target lima menjadi sembilan kursi dan cita-cita mengantarkan kader PKS menjadi Bupati Ciamis 2029, Didi meminta seluruh kader tidak melihat beratnya target sebagai alasan untuk mundur.

“Kalau kita bergerak bersama dan kita niatkan sebagai ibadah, yang berat akan menjadi ringan,” pungkasnya.

Continue Reading

News

Abu Bakar Sidik Apresiasi Kemenag Dorong PTKI Unggul

Published

on

By

CIAMIS — Anggota DPRD Kabupaten Ciamis Fraksi PKS, Abu Bakar Sidik, mengapresiasi Kementerian Agama (Kemenag) yang terus mendorong peningkatan mutu pendidikan Islam melalui edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat.

Apresiasi tersebut disampaikan Abu Bakar dalam kegiatan Peningkatan Mutu Pendidikan Islam 2026 di kampus Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Maarif, Ciamis, Senin, (31/08).

Kegiatan tersebut mengangkat sosialisasi kebijakan pengembangan dosen, tenaga kependidikan, dan Tri Dharma Perguruan Tinggi menuju Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) yang unggul di Ciamis.

Menurut Abu Bakar, kegiatan seperti Ngobrol Pendidikan Islam (NGOPI) memiliki peran penting.

Selain menjadi ruang edukasi untuk meningkatkan wawasan keislaman masyarakat, program tersebut juga menjadi sarana Kemenag menyampaikan berbagai kebijakan pendidikan Islam secara langsung.

“Sebagai wakil masyarakat Ciamis, saya menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Kemenag yang telah melakukan edukasi peningkatan wawasan agama Islam bagi masyarakat melalui program NGOPI,” ujarnya.

Ia menilai kebijakan pengembangan dosen, penguatan tenaga kependidikan, serta peningkatan kualitas Tri Dharma Perguruan Tinggi menjadi fondasi penting untuk mewujudkan PTKI yang unggul.

Ia menegaskan, kelengkapan sarana dan prasarana saja tidak cukup untuk membangun perguruan tinggi berkualitas.

Perguruan tinggi membutuhkan dosen yang terus berkembang kompetensinya, tenaga kependidikan yang kuat, serta pelaksanaan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat secara optimal.

“Sebagai wakil rakyat sekaligus bagian dari masyarakat, saya sangat mendorong kebijakan ini. Walaupun sarana dan prasarana lengkap, tanpa pengembangan kompetensi dosen, penguatan tenaga kependidikan, dan Tri Dharma Perguruan Tinggi, mustahil tercipta PTKI yang unggul,” katanya.

Ia berharap kebijakan tersebut semakin memperkuat kualitas PTKI sehingga mampu melahirkan generasi yang cerdas, berakhlak, kompeten, dan memiliki daya saing tinggi.

“Pendidikan Islam harus mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai akhlak dan karakter,” pungkasnya.

Continue Reading

News

Ibnu: Desil Jangan Hanya Andalkan Data Administratif

Published

on

By

CIAMIS — Anggota DPRD Kabupaten Ciamis, Ibnu Abdillah Hamam Fauzi, mendorong pemerintah memastikan penerapan data desil berjalan secara akurat dan rasional.

Ia menyampaikan hal itu saat menggelar reses di Saung Sawah Sukamaju, Kecamatan Baregbeg, Jumat (28/8/2026).

Menurut Ibnu, pemerintah perlu merasionalisasi kembali penggunaan data desil agar benar-benar mencerminkan kondisi ekonomi masyarakat yang sebenarnya

Data yang akurat akan membuat proses penentuan penerima bantuan berlangsung lebih objektif.

“Desil ini harus lebih dirasionalisasi. Datanya harus akurat supaya penentuan penerima bantuan lebih objektif. Jangan sampai penerapannya seperti uji coba, kemudian dampaknya justru kurang pas di masyarakat,” katanya.

Ia berharap pemerintah tidak hanya mengandalkan data administratif, tetapi juga memastikan kondisi faktual masyarakat masuk dalam proses pendataan dan pemutakhiran.

Ibnu menilai ketepatan data menjadi kunci agar program bantuan sosial mencapai warga yang benar-benar membutuhkan.

“Harapannya, dengan adanya desil ini bantuan pemerintah semakin tepat sasaran. Jangan sampai karena data yang kurang akurat, masyarakat yang seharusnya mendapatkan bantuan justru tidak mendapatkannya,” ujarnya.

Selain persoalan data desil, masyarakat dalam reses tersebut juga menyampaikan aspirasi terkait perbaikan selokan dan kali.

Infrastruktur drainase tersebut dinilai membutuhkan perhatian agar fungsi saluran air tetap optimal dan tidak menimbulkan persoalan bagi lingkungan warga.

Ibnu mengatakan seluruh aspirasi masyarakat akan menjadi catatan untuk diperjuangkan melalui lembaga DPRD dan komunikasi dengan pemerintah daerah.

“Pasti ini menjadi kajian penting yang akan serius kita perhatikan. Seluruh aspirasi yang hari ini disampaikan akan kami bahas bersama eksekutif,”pungkasnya.

Continue Reading

Trending