Connect with us

News

Tak Sengaja Bertemu KDS, Kader Posyandu Cidolog Jadikan Momen untuk Curhat Soal Insentif

Published

on

Tak Sengaja Bertemu KDS, Kader Posyandu Cidolog Jadikan Momen untuk Curhat Soal Insentif

Pertemuan yang tidak direncanakan sering kali menjadi momen paling jujur untuk mendengarkan denyut nadi masyarakat di akar rumput.

Hal inilah yang terjadi ketika Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, H. Didi Sukardi, secara kebetulan berpapasan dengan rombongan ibu-ibu kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) dan Pos Keluarga Berencana (Pos KB) asal Kecamatan Cidolog.

Momen pertemuan tak terduga di sela-sela rutinitas tersebut langsung dimanfaatkan dengan antusias oleh para kader.

Mengenali sosok wakil rakyat yang akrab disapa KDS tersebut, para pahlawan kesehatan desa ini tak menyia-nyiakan kesempatan emas untuk menyuarakan realitas yang selama ini mengganjal di hati mereka.

Tanpa sekat protokoler maupun panggung formal, suasana seketika berubah menjadi ajang curhat jalanan yang hangat sekaligus emosional.

Puluhan ibu-ibu yang bertugas di garis depan kesehatan desa itu secara blak-blakan menumpahkan keluh kesah mereka langsung kepada wakil rakyat dari Fraksi PKS tersebut.

Satu per satu kader menyampaikan beratnya tuntutan kerja harian yang jauh melampaui porsi tugas administratif biasa.

Mereka menceritakan rutinitas melelahkan, mulai dari door-to-door mendata ibu hamil, memantau gizi balita, hingga menjadi tulang punggung program nasional penanggulangan stunting di desa binaan masing-masing.

Puncak dari curhatan spontan tersebut bermuara pada realitas pahit mengenai ketimpangan apresiasi dari negara.

Para kader dengan nada lirih mengeluhkan bahwa jerih payah dan pengorbanan waktu mereka sejauh ini hanya diganjar dengan insentif bulanan yang sangat minim dan jauh dari standar kelayakan hidup.

Lebih miris lagi, honorarium yang tak seberapa itu pun sering kali tersendat jadwal pencairannya.

Beberapa kader bahkan secara jujur mengaku kepada KDS bahwa mereka sering terpaksa merogoh uang dari kantong pribadi sekadar untuk membelikan makanan tambahan (PMT) bagi anak-anak di posyandu.

Mendengar deretan jeritan hati yang disampaikan secara lugas tersebut, raut wajah Didi Sukardi tampak terenyuh dan mendengarkan dengan penuh empati.

Ketua DPD PKS Kabupaten Ciamis ini menegaskan bahwa curhatan kebetulan dari para kader ini adalah tamparan keras bagi para pemangku kebijakan.

“Ibu-ibu ini adalah ujung tombak penyelamat generasi masa depan bangsa. Sangat tidak adil rasanya jika keringat dan keikhlasan mereka hanya dihargai dengan insentif yang minim dan sering terlambat,” tegas KDS merespons aspirasi spontan tersebut.

Sebagai representasi suara rakyat di parlemen provinsi, Didi Sukardi berjanji tidak akan menganggap angin lalu curhatan jalanan ini.

Ia berkomitmen penuh untuk membawa jeritan hati kader asal Cidolog tersebut ke dalam meja pembahasan resmi di DPRD Provinsi Jawa Barat.

KDS bertekad akan mendesak peningkatan alokasi Bantuan Keuangan (Bankeu) provinsi yang secara khusus difokuskan untuk mendongkrak honorarium tenaga kesehatan desa.

Ia juga akan mendorong pemerintah kabupaten agar lebih berani memprioritaskan porsi Dana Desa untuk kesejahteraan kader.

Menutup perjumpaan tak terduga yang berlangsung akrab itu, Didi Sukardi menitipkan pesan penguatan agar para kader tetap ikhlas dan tidak patah semangat melayani warga.

Ia memastikan akan terus pasang badan mengawal regulasi agar keringat pahlawan kesehatan keluarga ini segera terbayar dengan kesejahteraan yang sepantasnya.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News

Maknai Sumpah Pemuda, Didi Sukardi Dorong Gen Z Rajut Persatuan di Ruang Digital

Published

on

Maknai Sumpah Pemuda, Didi Sukardi Dorong Gen Z Rajut Persatuan di Ruang Digital

Peristiwa bersejarah Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada tahun 1928 silam merupakan tonggak utama kebangkitan kesadaran nasional yang menyatukan berbagai perbedaan.

Namun, seiring berjalannya waktu dan pesatnya pergantian zaman, tantangan yang dihadapi oleh generasi muda masa kini tentu tidak lagi sama dengan para pemuda di era pergerakan kemerdekaan.

Realitas transformasi zaman inilah yang menjadi fokus refleksi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Barat, Didi Sukardi, dalam memaknai peringatan Hari Sumpah Pemuda.

Bagi Ketua DPD PKS Kabupaten Ciamis tersebut, ikrar tentang satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa tidak boleh hanya berhenti sebagai romansa sejarah yang sekadar dirayakan setiap akhir bulan Oktober.

Ia mengajak seluruh lapisan pemuda, khususnya Generasi Milenial dan Gen Z, untuk meredefinisi makna perjuangan tersebut ke dalam konteks kekinian yang serba digital.

Ia memandang bahwa jika pemuda zaman dahulu berjuang menyatukan visi untuk mengusir penjajah secara fisik, maka pemuda hari ini memikul tanggung jawab besar untuk merawat persatuan di tengah gempuran disrupsi informasi dan polarisasi sosial di dunia maya.

Tokoh masyarakat yang akrab disapa KDS ini secara khusus menyoroti fenomena ruang digital yang belakangan ini kerap berubah menjadi arena perpecahan akibat masifnya penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan budaya saling menjatuhkan.

Oleh karena itu, ia menekankan bahwa perwujudan sejati dari semangat Sumpah Pemuda saat ini harus direpresentasikan melalui kedewasaan berliterasi digital.

Pemuda dituntut untuk hadir sebagai agen perdamaian yang secara aktif memproduksi narasi-narasi positif, mengedepankan kolaborasi, serta membangun karya nyata yang menghadirkan solusi bagi permasalahan masyarakat di lingkungan sekitarnya.

Teruntuk para pemuda di wilayah Tatar Galuh Ciamis dan Jawa Barat pada umumnya, Didi Sukardi menaruh harapan besar agar mereka tidak hanya pasrah menjadi konsumen atau penonton di tengah arus globalisasi.

Ia mendorong generasi muda daerah untuk bangkit menjadi kreator tangguh yang mampu mengangkat potensi dan inovasi lokal ke kancah nasional maupun global.

Dalam proses tersebut, ia berpesan agar kearifan budaya lokal, seperti filosofi silih asah, silih asih, silih asuh, senantiasa dijadikan pedoman etika dalam setiap interaksi sosial maupun karya yang diciptakan.

Sebagai representasi suara masyarakat di parlemen tingkat provinsi, KDS turut menegaskan komitmen kuatnya untuk terus mengawal arah kebijakan pembangunan yang berpihak pada peningkatan kapasitas pemuda.

Ia sangat menyadari bahwa dorongan moral belaka tidak akan maksimal tanpa dibarengi dengan intervensi kebijakan struktural yang nyata dari pemerintah.

Oleh sebab itu, pihaknya terus memperjuangkan pemerataan akses pendidikan vokasi yang relevan dengan industri, penyediaan fasilitas ruang kreatif (creative hub) di berbagai daerah, hingga kemudahan akses permodalan bagi para wirausahawan muda pemula demi terciptanya kemandirian ekonomi.

Menutup pesan kebangsaannya, legislator asal Ciamis ini mengingatkan bahwa kunci keberhasilan bangsa Indonesia dalam menyongsong visi Indonesia Emas 2045 sepenuhnya berada di pundak pemuda hari ini.

Ia meyakini sepenuhnya, melalui perpaduan harmonis antara kecerdasan intelektual, ketangguhan mental, dan kecintaan yang tulus terhadap tanah air, para pemuda akan mampu menakhodai bangsa ini melewati berbagai badai tantangan global di masa depan.

Continue Reading

News

Tinjau Pilkades Digital di Desa Citimun, Didi Sukardi Apresiasi Transisi Demokrasi Desa Berbasis E-Voting di Sumedang

Published

on

Tinjau Pilkades Digital di Desa Citimun, Didi Sukardi Apresiasi Transisi Demokrasi Desa Berbasis E-Voting di Sumedang

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Barat, H. Didi Sukardi, S.E., bersama jajaran anggota Komisi I DPRD Jawa Barat melaksanakan agenda kunjungan kerja ke Desa Citimun, Kabupaten Sumedang.

Kunjungan strategis ini bertujuan untuk meninjau secara langsung pelaksanaan tahapan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak yang kini telah mengadopsi sistem digital penuh berbasis electronic voting (e-voting).

Bagi pria yang akrab disapa KDS ini, momentum Pilkades yang digelar serentak pada 28 Oktober 2026 tersebut merupakan lompatan monumental bagi proses demokrasi di tingkat akar rumput.

Kunjungan langsung ke Desa Citimun ini memberikan gambaran komprehensif kepada para legislator Komisi I DPRD Jawa Barat mengenai kesiapan infrastruktur teknologi serta kemampuan adaptasi masyarakat pedesaan dalam menyerap inovasi pemilihan yang lebih modern.

Dalam tinjauannya, Didi Sukardi menyoroti betapa efisien dan praktisnya alur pemilihan yang dijalankan oleh masyarakat setempat. Ia memberikan apresiasi atas keberanian Kabupaten Sumedang yang telah menerapkan sistem e-voting ini secara masif di 424 Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Pemilih kini dihadapkan pada tahapan yang sangat ringkas: mereka cukup datang membawa undangan dan kartu identitas, memindai barcode di bilik suara, dan menentukan pilihan dengan cara menyentuh foto kandidat di layar.

“Sistem ini sangat transparan dan akuntabel. Setelah warga menekan layar dan mengonfirmasi pilihannya, mesin e-voting akan langsung mencetak resi kertas sebagai bukti fisik pemungutan suara yang sah, yang kemudian tetap dimasukkan ke dalam kotak suara. Ini adalah kombinasi luar biasa antara kecepatan teknologi digital dan keamanan verifikasi fisik yang mampu menekan potensi kecurangan,” ungkap Didi Sukardi di sela-sela kunjungannya.

Lebih lanjut, tokoh politik kebanggaan PKS ini menilai bahwa sistem digitalisasi Pilkades membawa banyak keuntungan ganda.

Inovasi ini tidak hanya menekan potensi kesalahan teknis yang berujung pada surat suara tidak sah, tetapi juga secara signifikan mempercepat proses rekapitulasi penghitungan suara.

Di sisi lain, pengurangan penggunaan logistik kertas dalam skala besar dinilai sangat relevan dengan semangat efisiensi anggaran dan keberlanjutan lingkungan.

Didi Sukardi menegaskan bahwa terobosan sukses dari Kabupaten Sumedang ini harus dijadikan cetak biru dan tolok ukur bagi kabupaten-kabupaten lain di Jawa Barat.

Menurutnya, transisi menuju sistem demokrasi cerdas (smart democracy) tidak boleh eksklusif hanya menjadi milik masyarakat perkotaan, melainkan harus dibangun dan diperkuat fondasinya dari pemerintahan desa.

Sebagai representasi Komisi I DPRD Provinsi Jawa Barat yang membidangi pemerintahan, KDS menyatakan komitmen lembaganya untuk terus mematangkan kelancaran agenda Pilkades digital serentak pada masa mendatang.

Pihaknya akan menjadikan temuan di Desa Citimun ini sebagai bahan evaluasi komprehensif agar payung hukum dan dukungan stimulus anggaran dari provinsi dapat semakin dioptimalkan untuk memperluas cakupan teknologi e-voting.

Mengakhiri agenda kunjungannya, Didi Sukardi menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh jajaran panitia penyelenggara, aparat keamanan, serta antusiasme warga Desa Citimun.

Ia berharap, pemimpin yang terlahir dari rahim demokrasi yang transparan, modern, dan adil ini dapat memberikan pengabdian terbaiknya untuk kemajuan kesejahteraan masyarakat desa setempat.

Continue Reading

News

Tanamkan Pendidikan Demokrasi Sejak Dini, H. Abu Bakar Sidik Sambut Siswa MI Nurul Amal

Published

on

By

CIAMIS – Pengenalan dunia demokrasi dan lembaga pemerintahan perlu dimulai sejak usia dini.

Langkah ini penting untuk membangun pemahaman generasi muda tentang peran wakil rakyat dan fungsi lembaga legislatif dalam kehidupan bermasyarakat.

Anggota DPRD, H. Abu Bakar Sidik, menerima kunjungan siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Amal di Aula Wiradikusumah DPRD, Senin (27/10/2026).

Kunjungan tersebut menjadi kesempatan bagi para siswa untuk mengenal lebih dekat lingkungan kerja DPRD serta memahami tugas dan fungsi anggota dewan.

“Melalui kegiatan ini, para siswa dapat melihat secara langsung tempat para wakil rakyat menjalankan tugasnya,”katanya.

Mereka juga berkesempatan mengenal DPRD sebagai lembaga yang memiliki peran penting dalam penyusunan peraturan daerah, pembahasan anggaran, serta pengawasan terhadap jalannya pemerintahan daerah.

Pengenalan tersebut menjadi bagian dari pendidikan kewarganegaraan yang lebih dekat dengan kehidupan nyata.

“Jadi siswa tidak hanya mempelajari konsep pemerintahan melalui buku pelajaran, tetapi juga mengenal lembaga negara dan daerah melalui pengalaman langsung,”ungkapnya.

Kunjungan edukatif seperti ini juga dapat menumbuhkan rasa ingin tahu anak terhadap proses pengambilan keputusan publik.

Dengan pemahaman yang baik sejak dini, generasi muda diharapkan tumbuh menjadi warga negara yang kritis, peduli, dan bertanggung jawab.

Selain memperluas wawasan, kegiatan tersebut membuka ruang bagi siswa untuk mengenal peran wakil rakyat dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat.

“Pemahaman ini penting agar anak-anak menyadari bahwa demokrasi bukan sekadar perayaan pemilu, melainkan juga proses partisipasi masyarakat dalam pembangunan.

Continue Reading

Trending