News
NYANGKU PANJALU: Mengenang Boros Ngora, Menjaga Cahaya Peradaban
CIAMIS — Hari ini, masyarakat Panjalu kembali melaksanakan Nyangku, tradisi yang telah hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Nyangku bukan sekadar rangkaian ritual budaya. Di dalamnya terdapat ingatan tentang sejarah, penghormatan kepada leluhur, sekaligus pesan moral yang masih relevan untuk kehidupan masyarakat hari ini.
Karena itu, Nyangku semestinya tidak hanya membuat kita kagum pada pusaka dan kemeriahan acaranya.
Lebih dari itu, Nyangku harus mengajak kita bertanya: nilai apa yang diwariskan para pendahulu kepada generasi sekarang?
Salah satu nama yang lekat dengan sejarah dan tradisi masyarakat Panjalu adalah Boros Ngora.
Dalam tradisi lisan masyarakat Panjalu, Boros Ngora dikenal sebagai tokoh yang memiliki peran penting dalam perjalanan dakwah Islam dan perkembangan kehidupan masyarakat Panjalu.
Mengenangnya berarti bukan hanya mengingat seorang tokoh masa lalu. Kita juga perlu membaca kembali gagasan dan nilai yang dapat menjadi bekal bagi Panjalu hari ini.
Sebab, sejarah yang hanya dikenang akan menjadi cerita. Tetapi sejarah yang dipahami dapat menjadi energi untuk membangun masa depan.
Ada satu ungkapan yang menurut saya sederhana, tetapi menyimpan kedalaman filosofis: “Mangan karna halal, pake karna suci, tekad ucap lampah sabenere.”
Kalimat tersebut dapat kita baca sebagai sebuah panduan moral kehidupan. Halal dalam memperoleh. Suci dalam menggunakan.
Benar dalam berniat, berkata, dan bertindak. Menariknya, pesan tersebut memiliki kedekatan yang kuat dengan nilai-nilai Islam.
Mangan Karna Halal
“Mangan karna halal” mengajarkan bahwa sesuatu yang kita konsumsi harus berasal dari sumber yang halal dan baik.
Al-Qur’an menegaskan:
“Wahai manusia, makanlah dari apa yang terdapat di bumi yang halal lagi baik…” (QS. Al-Baqarah: 168)
Pesan halal tentu tidak berhenti pada makanan. Halal juga menyangkut cara memperoleh penghasilan. Jangan mencuri. Jangan menipu. Jangan mengambil hak orang lain. Jangan menghalalkan segala cara demi mengejar kekayaan.
Sebab rezeki bukan hanya soal jumlah.
Rezeki juga soal keberkahan. Apa yang diperoleh dengan cara yang baik akan menjadi bagian dari kehidupan keluarga. Dari keluarga yang baik, lahir generasi yang baik.
Panjalu memiliki potensi ekonomi yang besar. Pertanian, perkebunan, kopi, perikanan, pariwisata, dan berbagai usaha masyarakat merupakan modal yang dapat menggerakkan kesejahteraan.
Namun potensi alam tidak akan otomatis menjadi kesejahteraan. Ia membutuhkan manusia yang jujur, bekerja keras, dan amanah. Kekayaan alam akan menjadi berkah ketika dikelola dengan cara yang benar.
Pake Karna Suci
Kemudian ada pesan “pake karna suci.”
Secara sederhana, ungkapan tersebut mengingatkan kita untuk menggunakan sesuatu yang bersih dan suci.
Tetapi maknanya dapat jauh lebih luas.
Kesucian bukan hanya soal badan dan pakaian. Ada kesucian hati, niat, harta, lingkungan, dan perilaku.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)
Karena itu, masyarakat maju bukan hanya masyarakat yang memiliki rumah bagus dan jalan yang baik.
Masyarakat maju juga memiliki hati yang bersih, pikiran yang sehat, harta yang baik, dan perilaku yang beradab. Panjalu sendiri memiliki kekayaan alam yang luar biasa.
Situ Lengkong, hamparan pertanian, perkebunan kopi, pegunungan, dan suasana pedesaan merupakan aset yang tidak ternilai.
Tetapi keindahan alam harus berjalan bersama keindahan perilaku.
Panjalu jangan hanya dikenal karena alamnya indah. Panjalu juga harus dikenal karena masyarakatnya berakhlak.
Tekad, Ucap, Lampah Sabenere
Pesan berikutnya bahkan terasa semakin relevan dengan kehidupan hari ini:
“Tekad, ucap, lampah sabenere.”
Tekad harus benar. Ucapan harus benar.
Perbuatan harus benar. Inilah fondasi karakter manusia.
Al-Qur’an mengingatkan:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab: 70)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Tekad berbicara tentang niat.
Ucap berbicara tentang kejujuran.
Lampah berbicara tentang pembuktian.
Sebab niat baik tidak cukup jika tidak diwujudkan dalam tindakan. Kebaikan harus memiliki kaki untuk berjalan. Karena itu, kita membutuhkan manusia yang lurus niatnya, jujur perkataannya, dan nyata perbuatannya.
Jika nilai itu hidup di tengah masyarakat, kita akan memiliki pemerintahan yang amanah, pengusaha yang jujur, petani yang produktif, pendidik yang ikhlas, pemuda yang berintegritas, dan keluarga yang kokoh.
Boros Ngora dan Cahaya Dakwah Islam
Mengenang Boros Ngora berarti mengingat perjalanan panjang masyarakat Panjalu dalam membangun kehidupan dan peradaban.
Dakwah tidak hanya berarti mengajarkan ibadah. Dakwah juga berarti membangun manusia. Mengubah cara berpikir.
Memperbaiki akhlak. Mendorong masyarakat bekerja. Membangun keluarga.
Mengembangkan ilmu.Dan menata kehidupan sosial agar lebih baik.
Dalam perspektif tersebut, Boros Ngora dapat ditempatkan sebagai bagian penting dari perjalanan sejarah dan tradisi masyarakat Panjalu.
Karena itu, benda-benda pusaka yang hadir dalam Nyangku dapat kita baca lebih dari sekadar benda sejarah.
Pedang dan keris dapat menjadi simbol keberanian dan keteguhan. Namun keberanian tanpa nilai bisa berubah menjadi kekerasan. Karena itu, keberanian harus memiliki arah. Iman memberi arah. Akhlak menjaga langkah.
Pedang dapat kita maknai sebagai keberanian mempertahankan kebenaran.
Keris dapat kita maknai sebagai keteguhan menjaga amanah.
Sementara Al-Qur’an dan nilai-nilai Islam menjadi cahaya yang menunjukkan jalan.
Dengan cara pandang tersebut, Nyangku tidak hanya mengajak kita melihat masa lalu.
Nyangku mengajak kita bercermin. Apakah nilai perjuangan para pendahulu masih hidup dalam diri kita?
Panjalu Hari Ini dan Amanah Generasi Sekarang Panjalu hari ini tentu berbeda dengan Panjalu pada masa Boros Ngora.
Tantangannya pun berubah.
Generasi sekarang berhadapan dengan teknologi, perubahan ekonomi, arus budaya, persoalan lingkungan, hingga perubahan karakter generasi muda. Karena itu, warisan leluhur tidak cukup hanya diperingati. Warisan harus dihidupkan.
“Mangan karna halal” harus menjadi etos dalam membangun ekonomi masyarakat.
“Pake karna suci” harus menjadi budaya menjaga kebersihan, kesederhanaan, lingkungan, harta, dan perilaku.
Sedangkan “tekad ucap lampah sabenere” harus menjadi karakter kehidupan sosial. Lurus niatnya. Jujur ucapannya. Nyata amalnya.
Panjalu memiliki modal yang besar.
Ada alam yang indah. Ada sejarah yang panjang. Ada tradisi yang kuat. Ada potensi pertanian dan perkebunan. Ada masyarakat yang memiliki semangat bekerja dan merantau.
Tetapi semua potensi tersebut baru menjadi kekuatan peradaban ketika berada di tangan manusia yang memiliki nilai.
Bangga Menjadi Putra Panjalu
Sebagai putra daerah Panjalu, saya merasa bangga karena leluhur tidak hanya meninggalkan cerita.
Mereka juga meninggalkan pesan kehidupan. Mangan karna halal.
Pake karna suci. Tekad ucap lampah sabenere.
Semakin direnungkan, ungkapan itu semakin terasa sebagai bangunan moral yang utuh.
Halal dalam memperoleh.
Suci dalam menggunakan.
Benar dalam berniat.
Jujur dalam berkata.
Nyata dalam berbuat.
Nilai-nilai tersebut memiliki titik temu yang kuat dengan ajaran Islam. Karena itu, kita tidak perlu mempertentangkan tradisi dengan agama selama nilai yang kita hidupkan sejalan dengan prinsip Islam.
Justru tradisi dapat menjadi pintu untuk memperkuat akhlak. Tradisi menjadi bermakna ketika melahirkan kebaikan.
Sejarah menjadi berharga ketika melahirkan inspirasi.
Peringatan menjadi berarti ketika melahirkan
perubahan. Nyangku sebagai Momentum Peradaban Panjalu. Karena itu, saya berharap Nyangku tidak berhenti sebagai agenda tahunan.
Jadikan Nyangku sebagai momentum untuk memperkuat pendidikan. Jadikan momentum untuk membangun ekonomi masyarakat.
Jadikan momentum untuk menjaga lingkungan. Jadikan momentum untuk memperkuat keluarga. Jadikan momentum untuk membina generasi muda.
Dan jadikan momentum untuk menghidupkan kembali semangat dakwah yang membangun manusia.
Boros Ngora telah menjadi bagian dari sejarah Panjalu. Kini, kita sedang menulis halaman sejarah berikutnya.
Maka pertanyaannya bukan lagi:
Apa yang telah dilakukan Boros Ngora untuk Panjalu?
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apa yang akan kita lakukan untuk Panjalu?
Para pendahulu menghadapi zamannya dengan segala keterbatasan.
Kita menghadapi zaman yang berbeda dengan tantangan yang jauh lebih kompleks.
Karena itu, perjuangan hari ini membutuhkan ilmu, teknologi, ekonomi, pendidikan, budaya, lingkungan, dan dakwah.
Kita harus mewariskan Panjalu yang bukan hanya indah dipandang, tetapi juga indah masyarakatnya.
Bukan hanya kaya alamnya, tetapi juga kuat ekonominya. Bukan hanya panjang sejarahnya, tetapi juga cerah masa depannya. Dan bukan hanya memiliki tradisi Islam, tetapi benar-benar menghadirkan nilai Islam dalam kehidupan.
Menjaga Cahaya Peradaban
Mungkin inilah cara terbaik menghormati para pendahulu: bukan hanya mengenang perjuangannya, tetapi meneruskan nilai perjuangannya.
Semoga cahaya dakwah yang menjadi bagian dari perjalanan sejarah Boros Ngora dan masyarakat Panjalu terus menyala dari generasi ke generasi.
Semoga kita mampu menjaga cahaya itu dengan tekad yang benar, ucapan yang benar, dan langkah yang benar.
Mangan karna halal.
Pake karna suci.
Tekad, ucap, lampah sabenere.
Panjalu mewarisi sejarah.
Kita menerima amanah.
Dan generasi berikutnya menunggu karya kita.
H. Ade Amran
Pemerhati Sosial, Penulis, Politisi PKS Ciamis
News
Maknai Sumpah Pemuda, Didi Sukardi Dorong Gen Z Rajut Persatuan di Ruang Digital
Peristiwa bersejarah Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada tahun 1928 silam merupakan tonggak utama kebangkitan kesadaran nasional yang menyatukan berbagai perbedaan.
Namun, seiring berjalannya waktu dan pesatnya pergantian zaman, tantangan yang dihadapi oleh generasi muda masa kini tentu tidak lagi sama dengan para pemuda di era pergerakan kemerdekaan.
Realitas transformasi zaman inilah yang menjadi fokus refleksi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Barat, Didi Sukardi, dalam memaknai peringatan Hari Sumpah Pemuda.
Bagi Ketua DPD PKS Kabupaten Ciamis tersebut, ikrar tentang satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa tidak boleh hanya berhenti sebagai romansa sejarah yang sekadar dirayakan setiap akhir bulan Oktober.
Ia mengajak seluruh lapisan pemuda, khususnya Generasi Milenial dan Gen Z, untuk meredefinisi makna perjuangan tersebut ke dalam konteks kekinian yang serba digital.
Ia memandang bahwa jika pemuda zaman dahulu berjuang menyatukan visi untuk mengusir penjajah secara fisik, maka pemuda hari ini memikul tanggung jawab besar untuk merawat persatuan di tengah gempuran disrupsi informasi dan polarisasi sosial di dunia maya.
Tokoh masyarakat yang akrab disapa KDS ini secara khusus menyoroti fenomena ruang digital yang belakangan ini kerap berubah menjadi arena perpecahan akibat masifnya penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan budaya saling menjatuhkan.
Oleh karena itu, ia menekankan bahwa perwujudan sejati dari semangat Sumpah Pemuda saat ini harus direpresentasikan melalui kedewasaan berliterasi digital.
Pemuda dituntut untuk hadir sebagai agen perdamaian yang secara aktif memproduksi narasi-narasi positif, mengedepankan kolaborasi, serta membangun karya nyata yang menghadirkan solusi bagi permasalahan masyarakat di lingkungan sekitarnya.
Teruntuk para pemuda di wilayah Tatar Galuh Ciamis dan Jawa Barat pada umumnya, Didi Sukardi menaruh harapan besar agar mereka tidak hanya pasrah menjadi konsumen atau penonton di tengah arus globalisasi.
Ia mendorong generasi muda daerah untuk bangkit menjadi kreator tangguh yang mampu mengangkat potensi dan inovasi lokal ke kancah nasional maupun global.
Dalam proses tersebut, ia berpesan agar kearifan budaya lokal, seperti filosofi silih asah, silih asih, silih asuh, senantiasa dijadikan pedoman etika dalam setiap interaksi sosial maupun karya yang diciptakan.
Sebagai representasi suara masyarakat di parlemen tingkat provinsi, KDS turut menegaskan komitmen kuatnya untuk terus mengawal arah kebijakan pembangunan yang berpihak pada peningkatan kapasitas pemuda.
Ia sangat menyadari bahwa dorongan moral belaka tidak akan maksimal tanpa dibarengi dengan intervensi kebijakan struktural yang nyata dari pemerintah.
Oleh sebab itu, pihaknya terus memperjuangkan pemerataan akses pendidikan vokasi yang relevan dengan industri, penyediaan fasilitas ruang kreatif (creative hub) di berbagai daerah, hingga kemudahan akses permodalan bagi para wirausahawan muda pemula demi terciptanya kemandirian ekonomi.
Menutup pesan kebangsaannya, legislator asal Ciamis ini mengingatkan bahwa kunci keberhasilan bangsa Indonesia dalam menyongsong visi Indonesia Emas 2045 sepenuhnya berada di pundak pemuda hari ini.
Ia meyakini sepenuhnya, melalui perpaduan harmonis antara kecerdasan intelektual, ketangguhan mental, dan kecintaan yang tulus terhadap tanah air, para pemuda akan mampu menakhodai bangsa ini melewati berbagai badai tantangan global di masa depan.
News
Tinjau Pilkades Digital di Desa Citimun, Didi Sukardi Apresiasi Transisi Demokrasi Desa Berbasis E-Voting di Sumedang
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Barat, H. Didi Sukardi, S.E., bersama jajaran anggota Komisi I DPRD Jawa Barat melaksanakan agenda kunjungan kerja ke Desa Citimun, Kabupaten Sumedang.
Kunjungan strategis ini bertujuan untuk meninjau secara langsung pelaksanaan tahapan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak yang kini telah mengadopsi sistem digital penuh berbasis electronic voting (e-voting).
Bagi pria yang akrab disapa KDS ini, momentum Pilkades yang digelar serentak pada 28 Oktober 2026 tersebut merupakan lompatan monumental bagi proses demokrasi di tingkat akar rumput.
Kunjungan langsung ke Desa Citimun ini memberikan gambaran komprehensif kepada para legislator Komisi I DPRD Jawa Barat mengenai kesiapan infrastruktur teknologi serta kemampuan adaptasi masyarakat pedesaan dalam menyerap inovasi pemilihan yang lebih modern.
Dalam tinjauannya, Didi Sukardi menyoroti betapa efisien dan praktisnya alur pemilihan yang dijalankan oleh masyarakat setempat. Ia memberikan apresiasi atas keberanian Kabupaten Sumedang yang telah menerapkan sistem e-voting ini secara masif di 424 Tempat Pemungutan Suara (TPS).
Pemilih kini dihadapkan pada tahapan yang sangat ringkas: mereka cukup datang membawa undangan dan kartu identitas, memindai barcode di bilik suara, dan menentukan pilihan dengan cara menyentuh foto kandidat di layar.
“Sistem ini sangat transparan dan akuntabel. Setelah warga menekan layar dan mengonfirmasi pilihannya, mesin e-voting akan langsung mencetak resi kertas sebagai bukti fisik pemungutan suara yang sah, yang kemudian tetap dimasukkan ke dalam kotak suara. Ini adalah kombinasi luar biasa antara kecepatan teknologi digital dan keamanan verifikasi fisik yang mampu menekan potensi kecurangan,” ungkap Didi Sukardi di sela-sela kunjungannya.
Lebih lanjut, tokoh politik kebanggaan PKS ini menilai bahwa sistem digitalisasi Pilkades membawa banyak keuntungan ganda.
Inovasi ini tidak hanya menekan potensi kesalahan teknis yang berujung pada surat suara tidak sah, tetapi juga secara signifikan mempercepat proses rekapitulasi penghitungan suara.
Di sisi lain, pengurangan penggunaan logistik kertas dalam skala besar dinilai sangat relevan dengan semangat efisiensi anggaran dan keberlanjutan lingkungan.
Didi Sukardi menegaskan bahwa terobosan sukses dari Kabupaten Sumedang ini harus dijadikan cetak biru dan tolok ukur bagi kabupaten-kabupaten lain di Jawa Barat.
Menurutnya, transisi menuju sistem demokrasi cerdas (smart democracy) tidak boleh eksklusif hanya menjadi milik masyarakat perkotaan, melainkan harus dibangun dan diperkuat fondasinya dari pemerintahan desa.
Sebagai representasi Komisi I DPRD Provinsi Jawa Barat yang membidangi pemerintahan, KDS menyatakan komitmen lembaganya untuk terus mematangkan kelancaran agenda Pilkades digital serentak pada masa mendatang.
Pihaknya akan menjadikan temuan di Desa Citimun ini sebagai bahan evaluasi komprehensif agar payung hukum dan dukungan stimulus anggaran dari provinsi dapat semakin dioptimalkan untuk memperluas cakupan teknologi e-voting.
Mengakhiri agenda kunjungannya, Didi Sukardi menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh jajaran panitia penyelenggara, aparat keamanan, serta antusiasme warga Desa Citimun.
Ia berharap, pemimpin yang terlahir dari rahim demokrasi yang transparan, modern, dan adil ini dapat memberikan pengabdian terbaiknya untuk kemajuan kesejahteraan masyarakat desa setempat.
News
Tanamkan Pendidikan Demokrasi Sejak Dini, H. Abu Bakar Sidik Sambut Siswa MI Nurul Amal
CIAMIS – Pengenalan dunia demokrasi dan lembaga pemerintahan perlu dimulai sejak usia dini.
Langkah ini penting untuk membangun pemahaman generasi muda tentang peran wakil rakyat dan fungsi lembaga legislatif dalam kehidupan bermasyarakat.
Anggota DPRD, H. Abu Bakar Sidik, menerima kunjungan siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Amal di Aula Wiradikusumah DPRD, Senin (27/10/2026).
Kunjungan tersebut menjadi kesempatan bagi para siswa untuk mengenal lebih dekat lingkungan kerja DPRD serta memahami tugas dan fungsi anggota dewan.
“Melalui kegiatan ini, para siswa dapat melihat secara langsung tempat para wakil rakyat menjalankan tugasnya,”katanya.
Mereka juga berkesempatan mengenal DPRD sebagai lembaga yang memiliki peran penting dalam penyusunan peraturan daerah, pembahasan anggaran, serta pengawasan terhadap jalannya pemerintahan daerah.
Pengenalan tersebut menjadi bagian dari pendidikan kewarganegaraan yang lebih dekat dengan kehidupan nyata.
“Jadi siswa tidak hanya mempelajari konsep pemerintahan melalui buku pelajaran, tetapi juga mengenal lembaga negara dan daerah melalui pengalaman langsung,”ungkapnya.
Kunjungan edukatif seperti ini juga dapat menumbuhkan rasa ingin tahu anak terhadap proses pengambilan keputusan publik.
Dengan pemahaman yang baik sejak dini, generasi muda diharapkan tumbuh menjadi warga negara yang kritis, peduli, dan bertanggung jawab.
Selain memperluas wawasan, kegiatan tersebut membuka ruang bagi siswa untuk mengenal peran wakil rakyat dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat.
“Pemahaman ini penting agar anak-anak menyadari bahwa demokrasi bukan sekadar perayaan pemilu, melainkan juga proses partisipasi masyarakat dalam pembangunan.
-
News6 bulan agoDPD PKS Ciamis Ajukan PAW Anggota DPRD, Ibnu Abdillah Fauzi Diusulkan Gantikan Almarhum Dede Herli
-
News10 bulan agoKomisi I DPRD Jabar Dorong Profesionalisme ASN dan Reformasi Kepegawaian
-
News7 bulan agoTriple S Tundukkan KILLA dengan Skor Telak
-
News5 bulan agoDidi Sukardi Dorong Musola Dusun Sukadana Jadi Pusat Pendidikan dan Persatuan
-
News7 bulan agoLeuwi Keris Hari Ini, Potensi Besar yang Masih Menunggu ‘Sentuhan’
-
News11 bulan agoRute Bandung–Semarang Resmi Mengudara, KDM Bidik Lonjakan Perdagangan dan Wisata
-
News10 bulan agoKDM Rangkul PDIP, Ada Apa?
-
News6 bulan agoMilad PKS ke-24, KDS Borong Jajanan Pedagang Keliling
