Connect with us

News

Kerajinan Pandan Citapen Landeuh Tembus 42 Besar Telkom Bumi Berseru Fest 2025

Kerajinan pandan dari Dusun Citapen Landeuh meraih prestasi nasional dengan masuk 42 besar Inovasi Telkom Bumi Berseru Fest 2025, hasil kerja keras perempuan dalam komunitas NTK setelah bencana longsor. Pelatihan peningkatan kualitas dan pemasaran diadakan untuk mendukung pengrajin mengembangkan usaha dan menghasilkan produk unggul yang bersaing di pasar.

Published

on

Kerajinan Pandan Citapen Landeuh Tembus 42 Besar Telkom Bumi Berseru Fest 2025

Kerajinan pandan asal Dusun Citapen Landeuh, Desa Sukajaya, Kecamatan Rajadesa, Kabupaten Ciamis, menorehkan capaian membanggakan di tingkat nasional.

Inovasi kerajinan berbasis potensi alam lokal ini berhasil menembus 42 besar Inovasi Telkom Bumi Berseru Fest 2025, setelah bersaing dengan ribuan peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Capaian tersebut menjadi bukti bahwa produk UMKM dari desa, ketika dikelola dengan inovasi dan kolaborasi yang tepat, mampu bersaing di panggung nasional.

Lebih membanggakan lagi, kerajinan pandan ini digarap oleh para perempuan yang tergabung dalam komunitas NTK (Neuraskeun Tapak Kolot), sebuah kelompok pengrajin yang konsisten mengembangkan kearifan lokal sebagai sumber ekonomi berkelanjutan.

Kerajinan pandan Citapen Landeuh tidak lahir dari kondisi yang ideal. Inovasi ini justru tumbuh dari pengalaman pahit warga yang pernah terdampak bencana longsor pada April 2020 silam.

Sejak saat itu, masyarakat berupaya bangkit dengan mengenali potensi alam di sekitarnya, salah satunya tanaman pandan yang tumbuh subur di wilayah tersebut.

Ketua Forum Komunikasi Peduli Daerah Aliran Sungai (FKPDAS) Jabar Wilayah Ciamis, Joni Raufa, menjelaskan bahwa inovasi ini menjadi contoh nyata bagaimana masyarakat di wilayah rawan bencana dapat bangkit dengan mengelola sumber daya alam secara bijak.

Menurutnya, kerajinan pandan tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga berkontribusi dalam menjaga keseimbangan lingkungan.

“Inovasi ini lahir dari Citapen Landeuh yang pernah mengalami bencana. Harapannya, karya ini bisa menginspirasi masyarakat di wilayah lain agar mampu menggali potensi alam sekaligus merawat lingkungan demi keberlangsungan hidup ke depan,” ujar Joni.

Sebagai bagian dari proses seleksi lanjutan Telkom Bumi Berseru Fest 2025, FKPDAS Jabar Wilayah Ciamis menggelar kegiatan “Pandan Craft Naik Kelas – Update Craft dan Digital Marketing”, Jumat (12/12/2025) di Aula Dusun Citapen Landeuh, Desa Sukajaya.

Kegiatan ini menjadi tahapan penting bagi para pengrajin untuk mempersiapkan diri menuju seleksi 20 besar inovator nasional.

Pelatihan tersebut difasilitasi oleh PT Telkom Indonesia dan dilaksanakan selama tiga hari.

Sejumlah narasumber dihadirkan dari berbagai instansi, antara lain Cabang Dinas Kehutanan Provinsi Wilayah VII, Dewan Pakar FKPDAS, BPBD Ciamis, Dinas Koperasi UKM Perdagangan dan Perindustrian (DKUKMP), Camat Rajadesa, serta Pemerintah Desa Sukajaya.

Joni Raufa menegaskan bahwa pelatihan ini dirancang untuk memperkuat aspek inovasi, keberlanjutan usaha, serta daya saing produk kerajinan pandan di pasar yang lebih luas.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mengembangkan UMKM berbasis potensi lokal.

Kepala Perencanaan dan Pengendalian FKPDAS, Dwinarto Rasyid, mengungkapkan bahwa sekitar 40 peserta dari komunitas NTK mengikuti rangkaian pelatihan tersebut.

Materi yang diberikan mencakup penajaman inovasi produk, manajemen produksi, hingga strategi pemasaran berbasis digital.

Menurut Dwinarto, pandan yang tumbuh di Citapen Landeuh memiliki kualitas unggul, baik dari jenis maupun panjang daunnya.

Selain itu, pola anyaman yang digunakan para pengrajin memiliki ciri khas tersendiri sebagai bentuk kearifan lokal.

Keunikan ini menjadi nilai tambah yang membedakan produk Citapen Landeuh dengan kerajinan pandan dari daerah lain.

“Produk yang dihasilkan cukup beragam, mulai dari tikar, tas, sandal, vas bunga, hingga topi. Ciri khas anyaman lokal ini menjadi keunggulan tersendiri untuk bersaing di pasar,” ujarnya.

Dewan Pakar FKPDAS, Ir. Tiwa Sukrianto, MS.I, menekankan pentingnya menumbuhkan rasa bangga terhadap produk lokal.

Menurutnya, kebanggaan tersebut harus menjadi fondasi sebelum melangkah ke strategi pemasaran yang lebih luas.

“Bangga dulu memakainya, setelah itu baru kita susun strategi pemasaran dan membenahi manajemen produksinya dengan berkolaborasi bersama berbagai pihak,” kata Tiwa.

Apresiasi juga datang dari Yoyo, Kepala Dusun Citapen Landeuh, yang melihat langsung antusiasme tinggi para peserta pelatihan.

Ia menilai kegiatan tersebut memberikan dampak konkret bagi kemajuan warga dan membuka peluang ekonomi yang lebih luas.

Kepala Desa Sukajaya, Helmi Purnama, menyebutkan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi yang dapat dijadikan contoh dalam pengembangan UMKM dari hulu hingga hilir.

Ia mengungkapkan bahwa Pemerintah Desa Sukajaya telah mendorong pelatihan UMKM pandan melalui Dana Desa pada tahun 2023.

“FKPDAS bersama para pengrajin sejak 2025 menggelar pelatihan awal. Alhamdulillah, hari ini kita bisa melihat perkembangannya. Beberapa produk sudah terserap pasar, meski tetap harus terus dipacu untuk memperkuat ketahanan ekonomi keluarga,” ujarnya.

Sementara itu, Camat Rajadesa, Nandang, S.Sos, menyampaikan bahwa produk kerajinan pandan Citapen Landeuh telah digunakan di lingkungan Kantor Kecamatan.

Ia menilai masukan dan inovasi harus terus dikembangkan agar produk mampu beradaptasi dengan tuntutan pasar digital.

“Kolaborasi, inovasi, dan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan digital menjadi kunci pengembangan UMKM ke depan,” kata Nandang.

Dengan lolosnya kerajinan pandan Citapen Landeuh ke 42 besar Telkom Bumi Berseru Fest 2025, harapan besar pun tersemat agar inovasi berbasis kearifan lokal ini dapat melangkah lebih jauh, sekaligus menjadi inspirasi bagi UMKM desa lainnya di Indonesia.

Continue Reading

News

Maknai Sumpah Pemuda, Didi Sukardi Dorong Gen Z Rajut Persatuan di Ruang Digital

Published

on

Maknai Sumpah Pemuda, Didi Sukardi Dorong Gen Z Rajut Persatuan di Ruang Digital

Peristiwa bersejarah Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada tahun 1928 silam merupakan tonggak utama kebangkitan kesadaran nasional yang menyatukan berbagai perbedaan.

Namun, seiring berjalannya waktu dan pesatnya pergantian zaman, tantangan yang dihadapi oleh generasi muda masa kini tentu tidak lagi sama dengan para pemuda di era pergerakan kemerdekaan.

Realitas transformasi zaman inilah yang menjadi fokus refleksi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Barat, Didi Sukardi, dalam memaknai peringatan Hari Sumpah Pemuda.

Bagi Ketua DPD PKS Kabupaten Ciamis tersebut, ikrar tentang satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa tidak boleh hanya berhenti sebagai romansa sejarah yang sekadar dirayakan setiap akhir bulan Oktober.

Ia mengajak seluruh lapisan pemuda, khususnya Generasi Milenial dan Gen Z, untuk meredefinisi makna perjuangan tersebut ke dalam konteks kekinian yang serba digital.

Ia memandang bahwa jika pemuda zaman dahulu berjuang menyatukan visi untuk mengusir penjajah secara fisik, maka pemuda hari ini memikul tanggung jawab besar untuk merawat persatuan di tengah gempuran disrupsi informasi dan polarisasi sosial di dunia maya.

Tokoh masyarakat yang akrab disapa KDS ini secara khusus menyoroti fenomena ruang digital yang belakangan ini kerap berubah menjadi arena perpecahan akibat masifnya penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan budaya saling menjatuhkan.

Oleh karena itu, ia menekankan bahwa perwujudan sejati dari semangat Sumpah Pemuda saat ini harus direpresentasikan melalui kedewasaan berliterasi digital.

Pemuda dituntut untuk hadir sebagai agen perdamaian yang secara aktif memproduksi narasi-narasi positif, mengedepankan kolaborasi, serta membangun karya nyata yang menghadirkan solusi bagi permasalahan masyarakat di lingkungan sekitarnya.

Teruntuk para pemuda di wilayah Tatar Galuh Ciamis dan Jawa Barat pada umumnya, Didi Sukardi menaruh harapan besar agar mereka tidak hanya pasrah menjadi konsumen atau penonton di tengah arus globalisasi.

Ia mendorong generasi muda daerah untuk bangkit menjadi kreator tangguh yang mampu mengangkat potensi dan inovasi lokal ke kancah nasional maupun global.

Dalam proses tersebut, ia berpesan agar kearifan budaya lokal, seperti filosofi silih asah, silih asih, silih asuh, senantiasa dijadikan pedoman etika dalam setiap interaksi sosial maupun karya yang diciptakan.

Sebagai representasi suara masyarakat di parlemen tingkat provinsi, KDS turut menegaskan komitmen kuatnya untuk terus mengawal arah kebijakan pembangunan yang berpihak pada peningkatan kapasitas pemuda.

Ia sangat menyadari bahwa dorongan moral belaka tidak akan maksimal tanpa dibarengi dengan intervensi kebijakan struktural yang nyata dari pemerintah.

Oleh sebab itu, pihaknya terus memperjuangkan pemerataan akses pendidikan vokasi yang relevan dengan industri, penyediaan fasilitas ruang kreatif (creative hub) di berbagai daerah, hingga kemudahan akses permodalan bagi para wirausahawan muda pemula demi terciptanya kemandirian ekonomi.

Menutup pesan kebangsaannya, legislator asal Ciamis ini mengingatkan bahwa kunci keberhasilan bangsa Indonesia dalam menyongsong visi Indonesia Emas 2045 sepenuhnya berada di pundak pemuda hari ini.

Ia meyakini sepenuhnya, melalui perpaduan harmonis antara kecerdasan intelektual, ketangguhan mental, dan kecintaan yang tulus terhadap tanah air, para pemuda akan mampu menakhodai bangsa ini melewati berbagai badai tantangan global di masa depan.

Continue Reading

News

Tinjau Pilkades Digital di Desa Citimun, Didi Sukardi Apresiasi Transisi Demokrasi Desa Berbasis E-Voting di Sumedang

Published

on

Tinjau Pilkades Digital di Desa Citimun, Didi Sukardi Apresiasi Transisi Demokrasi Desa Berbasis E-Voting di Sumedang

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Barat, H. Didi Sukardi, S.E., bersama jajaran anggota Komisi I DPRD Jawa Barat melaksanakan agenda kunjungan kerja ke Desa Citimun, Kabupaten Sumedang.

Kunjungan strategis ini bertujuan untuk meninjau secara langsung pelaksanaan tahapan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak yang kini telah mengadopsi sistem digital penuh berbasis electronic voting (e-voting).

Bagi pria yang akrab disapa KDS ini, momentum Pilkades yang digelar serentak pada 28 Oktober 2026 tersebut merupakan lompatan monumental bagi proses demokrasi di tingkat akar rumput.

Kunjungan langsung ke Desa Citimun ini memberikan gambaran komprehensif kepada para legislator Komisi I DPRD Jawa Barat mengenai kesiapan infrastruktur teknologi serta kemampuan adaptasi masyarakat pedesaan dalam menyerap inovasi pemilihan yang lebih modern.

Dalam tinjauannya, Didi Sukardi menyoroti betapa efisien dan praktisnya alur pemilihan yang dijalankan oleh masyarakat setempat. Ia memberikan apresiasi atas keberanian Kabupaten Sumedang yang telah menerapkan sistem e-voting ini secara masif di 424 Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Pemilih kini dihadapkan pada tahapan yang sangat ringkas: mereka cukup datang membawa undangan dan kartu identitas, memindai barcode di bilik suara, dan menentukan pilihan dengan cara menyentuh foto kandidat di layar.

“Sistem ini sangat transparan dan akuntabel. Setelah warga menekan layar dan mengonfirmasi pilihannya, mesin e-voting akan langsung mencetak resi kertas sebagai bukti fisik pemungutan suara yang sah, yang kemudian tetap dimasukkan ke dalam kotak suara. Ini adalah kombinasi luar biasa antara kecepatan teknologi digital dan keamanan verifikasi fisik yang mampu menekan potensi kecurangan,” ungkap Didi Sukardi di sela-sela kunjungannya.

Lebih lanjut, tokoh politik kebanggaan PKS ini menilai bahwa sistem digitalisasi Pilkades membawa banyak keuntungan ganda.

Inovasi ini tidak hanya menekan potensi kesalahan teknis yang berujung pada surat suara tidak sah, tetapi juga secara signifikan mempercepat proses rekapitulasi penghitungan suara.

Di sisi lain, pengurangan penggunaan logistik kertas dalam skala besar dinilai sangat relevan dengan semangat efisiensi anggaran dan keberlanjutan lingkungan.

Didi Sukardi menegaskan bahwa terobosan sukses dari Kabupaten Sumedang ini harus dijadikan cetak biru dan tolok ukur bagi kabupaten-kabupaten lain di Jawa Barat.

Menurutnya, transisi menuju sistem demokrasi cerdas (smart democracy) tidak boleh eksklusif hanya menjadi milik masyarakat perkotaan, melainkan harus dibangun dan diperkuat fondasinya dari pemerintahan desa.

Sebagai representasi Komisi I DPRD Provinsi Jawa Barat yang membidangi pemerintahan, KDS menyatakan komitmen lembaganya untuk terus mematangkan kelancaran agenda Pilkades digital serentak pada masa mendatang.

Pihaknya akan menjadikan temuan di Desa Citimun ini sebagai bahan evaluasi komprehensif agar payung hukum dan dukungan stimulus anggaran dari provinsi dapat semakin dioptimalkan untuk memperluas cakupan teknologi e-voting.

Mengakhiri agenda kunjungannya, Didi Sukardi menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh jajaran panitia penyelenggara, aparat keamanan, serta antusiasme warga Desa Citimun.

Ia berharap, pemimpin yang terlahir dari rahim demokrasi yang transparan, modern, dan adil ini dapat memberikan pengabdian terbaiknya untuk kemajuan kesejahteraan masyarakat desa setempat.

Continue Reading

News

Tanamkan Pendidikan Demokrasi Sejak Dini, H. Abu Bakar Sidik Sambut Siswa MI Nurul Amal

Published

on

By

CIAMIS – Pengenalan dunia demokrasi dan lembaga pemerintahan perlu dimulai sejak usia dini.

Langkah ini penting untuk membangun pemahaman generasi muda tentang peran wakil rakyat dan fungsi lembaga legislatif dalam kehidupan bermasyarakat.

Anggota DPRD, H. Abu Bakar Sidik, menerima kunjungan siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Amal di Aula Wiradikusumah DPRD, Senin (27/10/2026).

Kunjungan tersebut menjadi kesempatan bagi para siswa untuk mengenal lebih dekat lingkungan kerja DPRD serta memahami tugas dan fungsi anggota dewan.

“Melalui kegiatan ini, para siswa dapat melihat secara langsung tempat para wakil rakyat menjalankan tugasnya,”katanya.

Mereka juga berkesempatan mengenal DPRD sebagai lembaga yang memiliki peran penting dalam penyusunan peraturan daerah, pembahasan anggaran, serta pengawasan terhadap jalannya pemerintahan daerah.

Pengenalan tersebut menjadi bagian dari pendidikan kewarganegaraan yang lebih dekat dengan kehidupan nyata.

“Jadi siswa tidak hanya mempelajari konsep pemerintahan melalui buku pelajaran, tetapi juga mengenal lembaga negara dan daerah melalui pengalaman langsung,”ungkapnya.

Kunjungan edukatif seperti ini juga dapat menumbuhkan rasa ingin tahu anak terhadap proses pengambilan keputusan publik.

Dengan pemahaman yang baik sejak dini, generasi muda diharapkan tumbuh menjadi warga negara yang kritis, peduli, dan bertanggung jawab.

Selain memperluas wawasan, kegiatan tersebut membuka ruang bagi siswa untuk mengenal peran wakil rakyat dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat.

“Pemahaman ini penting agar anak-anak menyadari bahwa demokrasi bukan sekadar perayaan pemilu, melainkan juga proses partisipasi masyarakat dalam pembangunan.

Continue Reading

Trending